Nikmati pengalaman menonton film terbaru dengan Filmkita21! Temukan link nonton LK21 & Layarkaca21, sinopsis lengkap, dan alur cerita movie favoritmu dalam satu tempat yang praktis dan update setiap hari.

The Man Who Loved UFOs (2024)

20 voting, rata-rata 6.0 dari 10

Obsesi pada langit menjadikan seorang pria bertahan hidup di bumi yang sering kali terasa terlalu sempit untuk mimpinya.

Sinopsis

The Man Who Loved UFOs (2024) adalah drama emosional besutan Diego Lerman yang menggali kehidupan seorang pria yang terobsesi dengan fenomena luar angkasa, terutama keberadaan UFO. Film ini tidak bergerak ke arah sci-fi spektakuler, tetapi memilih pendekatan intim mengenai bagaimana obsesi, kesendirian, dan harapan dapat menjadi motor utama kehidupan seseorang. Sejak pembuka, The Man Who Loved UFOs (2024) menunjukkan bahwa kisah ini bukan tentang apakah UFO benar-benar ada, tetapi tentang bagaimana seseorang bertahan hidup ketika dunia nyata semakin sulit dipahami.

Protagonis adalah pria berusia paruh baya yang tinggal di kota kecil. Ia menghabiskan malam-malamnya memandangi langit menggunakan teleskop yang ia beli bertahun-tahun lalu, mencatat pola cahaya, dan mengunggah teorinya ke forum online yang tidak banyak diikuti. Di siang hari, ia bekerja di toko perlengkapan elektronik dengan gaji standar yang cukup untuk hidup tetapi tidak cukup untuk memenuhi mimpi besarnya. Dari awal film, penonton diperlihatkan bagaimana hidupnya terbelah antara kenyataan mundane dan dunia imajinatif yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Di rumah, hidupnya tidak lebih baik. Ia tinggal sendirian setelah perceraian yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami. Mantan istrinya menilai obsesi UFO sebagai tanda kegagalan kedewasaan, sementara anak perempuannya mulai menjauh karena malu pada ayahnya yang dianggap “aneh” oleh lingkungan sekitar. The Man Who Loved UFOs (2024) memanfaatkan dinamika keluarga ini untuk menunjukkan betapa kesepian bukan hanya soal tidak bersama orang lain, tetapi soal tidak bisa dipahami oleh mereka yang seharusnya paling dekat.

Namun film tidak hanya berkutat dalam kesedihan. Pertemuan protagonis dengan komunitas ufolog lokal membuka ruang bagi humor kecil dan persahabatan yang hangat. Komunitas itu terdiri dari individu yang juga dianggap eksentrik oleh masyarakat: seorang pensiunan pilot, seorang mahasiswa astronomi yang patah hati, dan seorang mantan pekerja radio amatir yang percaya gelombang elektromagnetik adalah bahasa alien. Dalam interaksi mereka, The Man Who Loved UFOs (2024) menunjukkan bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang mencari sesuatu di luar diri mereka sendiri, meskipun pencarian itu tampak tidak masuk akal bagi orang lain.

Bagian tengah film menghadirkan twist halus ketika protagonis mulai yakin bahwa ada pola yang konsisten dalam penampakan cahaya yang ia rekam. Ia mulai menggabungkan data, mencetak foto, dan mengirim email ke ahli astronomi, tetapi seperti dunia nyata, tidak ada yang benar-benar menjawab. Penonton dibiarkan berada dalam ketidakpastian: apakah ini hanya obsesi yang semakin dalam atau ada sesuatu yang nyata? Diego Lerman memilih ketegangan psikologis alih-alih kepastian ilmiah, membuat penontonnya terus mendekati misteri tanpa menyentuh jawabannya secara langsung.

Climax The Man Who Loved UFOs (2024) terjadi pada malam peristiwa meteor langka. Kota berkumpul di luar untuk melihat fenomena tersebut, tetapi protagonis berdiri sendiri di bukit untuk merekam cahaya dari sudut yang berbeda. Dalam adegan tersebut, dialog nyaris tidak diperlukan — kamera menangkap campuran harapan, ketakutan, dan keterasingan dalam satu bidikan panjang. Cahaya di langit datang dengan intensitas yang lebih kuat dari biasanya, membuat protagonis yakin bahwa ia akhirnya melihat apa yang ia cari selama ini. Namun film tidak memberikan close-up atau bukti detail, membiarkan pengalaman tetap subjektif.

Menghadapi momen itu, perubahan terjadi bukan pada langit, tetapi pada pria itu sendiri. Ia tidak lagi membutuhkan validasi dari forum, keluarga, atau ilmuwan. Baginya, melihat adalah cukup. Film kemudian bergerak ke arah penyembuhan emosional: ia mulai berbicara kembali dengan anak perempuannya, bukan untuk meyakinkannya tentang UFO, tetapi untuk berbicara sebagai seorang ayah. Dalam The Man Who Loved UFOs (2024), kemenangan bukan datang dalam bentuk pembuktian teori, tetapi dalam bentuk rekonsiliasi dengan dunia nyata yang dulu terasa terlalu sempit.

Akhir film lembut dan ambigu, tetapi penuh harapan. Kamera memperlihatkan protagonis duduk di kursi plastik tua di halaman rumahnya, memandang langit yang kini lebih tenang. Tidak ada cahaya misterius, tetapi ada senyum kecil yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi merasa sendirian. Film menutupnya dengan gagasan bahwa obsesi kadang bukan penyakit, tetapi alat untuk bertahan hidup di tengah dunia yang keras. The Man Who Loved UFOs (2024) menjadi drama yang tidak pernah mempermalukan eksentrik, tetapi merayakan bahwa hidup setiap manusia memerlukan sesuatu untuk dicintai — bahkan sesuatu yang tidak bisa disentuh.

Download The Man Who Loved UFOs (2024)