Dalam The Internship (2026), ambisi generasi muda bertemu realita dunia kerja yang sering kali lebih kejam, absurd, dan penuh budaya perusahaan yang tidak tertulis.
Sinopsis Film :
Film The Internship (2026) adalah komedi-drama yang mengikuti perjalanan lima mahasiswa tahun akhir yang diterima dalam program magang kompetitif di sebuah perusahaan teknologi global bernama Nexaware. Perusahaan ini terkenal karena fasilitasnya yang futuristik, standar produksinya yang tinggi, dan kultur internal yang menyatukan kerja keras dengan kompetisi sosial yang kadang melelahkan. Program magang berlangsung 10 minggu dengan sistem eliminasi, di mana hanya dua peserta terbaik yang akan ditawari kontrak penuh waktu.
Tokoh utama adalah Kai, mahasiswa jurusan desain antarmuka yang berbakat tetapi kurang percaya diri. Ia masuk ke Nexaware bukan melalui nilai akademis yang sempurna, melainkan melalui portofolio personal yang mengesankan. Di lingkungan baru ini, Kai bertemu peserta lain: Lila yang agresif dan perfeksionis, Jiro yang humoris, Nadine yang introvert namun jenius dalam algoritma, dan Theo yang berhubungan baik dengan staf senior sehingga dicurigai memiliki “jalur belakang”.
Konflik awal dalam The Internship (2026) muncul ketika para peserta menyadari bahwa tugas-tugas mereka bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga navigasi politik kantor. Tugas pertama bahkan tampak sepele: membuat presentasi tentang produk lama yang akan dihentikan. Namun penilaian dilakukan berdasarkan parameter yang tidak diumumkan: kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan membaca arah bisnis perusahaan. Kai unggul karena pendekatannya yang empatik, tetapi poinnya hilang karena ia tidak “menjual” dirinya di depan manajemen.
Bagian tengah film menyoroti dinamika internal yang sering luput dari film tentang dunia kerja. Ada ruang istirahat yang menjadi medan gosip, ruang rapat tempat ide dicuri tanpa rasa bersalah, dan sesi one-on-one yang lebih menilai kemampuan bersosialisasi daripada potensi teknis. Sementara itu, Kai menemukan mentor tak terduga: Mira, desainer senior yang melihat kilatan potensinya tetapi juga tahu bahwa dunia kerja jarang memberi keuntungan pada orang yang ragu-ragu.
Pertengahan The Internship (2026) juga memperlihatkan kompetisi antar peserta yang semakin sengit. Nexaware mengumumkan proyek utama: para peserta harus merancang prototipe produk untuk segmen pasar baru. Proyek ini adalah inti drama sekaligus komedi — para peserta tidur di kantor, berdebat soal visi, dan menyesuaikan karakter masing-masing. Kai ingin merancang produk yang inklusif dan ramah pengguna, sementara Lila fokus pada fitur inovatif yang lebih mencolok secara teknologis. Perbedaan ide ini mencerminkan pertanyaan yang lebih besar: apakah teknologi harus tampil hebat atau membantu orang?
Climax terjadi ketika presentasi final mendekat dan tekanan memuncak. Theo ketahuan menggunakan data internal tanpa izin, sementara Jiro terpaksa menarik diri karena masalah kesehatan akibat kelelahan. Kai dan Lila akhirnya dipaksa bekerja sama. Proses ini menelanjangi banyak kebenaran tentang dunia kerja: kadang inovasi lahir bukan karena ide hebat, tetapi karena kompromi yang baik.
Pada presentasi final, tim Kai menghasilkan prototipe yang tidak paling “keren” dalam hal efek visual, tetapi memikat karena penelitian pengguna yang mendalam dan cerita emosional yang kuat. Dewan direksi terbelah — sebagian menginginkan strategi agresif, sebagian menginginkan visi manusiawi. Namun dalam twist yang realistis, Nexaware memilih opsi tengah: mereka mengambil konsep Kai, tetapi memodifikasi desain akhir menggunakan estetika Lila.
Ending The Internship (2026) memilih penyelesaian yang dewasa. Hanya dua peserta yang menerima tawaran kerja: Lila dan Kai. Namun Kai hampir menolak tawaran tersebut karena merasa ia kehilangan sebagian identitas kreatifnya dalam proses. Mira mengingatkannya bahwa dunia kerja bukan tempat untuk mempertahankan ego, tetapi tempat untuk membangun ruang agar orang lain dapat melihat nilaimu. “Kadang inovasi terbesar bukan pada produk, tetapi pada siapa kamu di dalam sistem,” katanya.
Film ditutup dengan montage yang memperlihatkan para peserta kembali ke kehidupan mereka — ada yang kembali kuliah, ada yang membuat startup kecil, dan ada yang memutuskan bahwa dunia korporasi bukan untuk mereka. Kai memasuki gedung Nexaware bukan sebagai magang tetapi sebagai karyawan baru, mengakui bahwa babak kariernya baru saja dimulai dan belum tentu mudah.
The Internship (2026) berhasil menjadi komentar sosial tentang teknologi, ambisi, dan dunia kerja modern yang sering tidak difilmkan: dunia yang penuh presentasi, jargon, dan politik halus yang tidak pernah muncul di brosur kampus.












