Dalam Renoir (2025), seni bukan hanya tentang warna di kanvas, tetapi tentang tubuh, rasa sakit, cinta, dan kompromi antara kehidupan serta warisan.
Sinopsis Film :
Film Renoir (2025) adalah drama biografi tentang tahun-tahun terakhir Pierre-Auguste Renoir, maestro impresionis Prancis yang karyanya memengaruhi generasi pelukis modern. Kisahnya tidak difokuskan pada puncak karier sang seniman, tetapi pada masa ketika tubuhnya mulai runtuh karena rheumatoid arthritis, sementara hasratnya terhadap warna dan cahaya justru semakin meningkat.
Film dibuka pada awal abad ke-20 di pedesaan Cagnes-sur-Mer. Renoir sudah tidak lagi lincah; jarinya kaku, tangannya sering gemetar, dan rasa sakit menyerang setiap pagi. Namun ia masih melukis, dengan kuas yang diikatkan ke tangan menggunakan kain agar tidak jatuh. Di tempat ini pula hadir seorang model muda bernama Andrée Heuschling, yang kelak menjadi aktris pertama di film-film putra Renoir, Jean.
Konflik awal Renoir (2025) terjadi bukan melalui antagonis tradisional, tetapi melalui benturan antara tubuh yang menua dan keinginan artistik yang terus membara. Sebagian staf keluarga ingin Renoir berhenti melukis demi kesehatannya, tetapi Andrée justru mendorongnya berjuang. “Jika cahaya masih datang ke matamu, kenapa kau menolaknya?” begitu Andrée bertanya. Dialog ini menjadi fondasi relasi mereka.
Pertengahan film memperlihatkan kedatangan Jean Renoir yang baru pulang dari medan perang Péronne. Jean terluka secara fisik dan emosional, dan tidak memahami mengapa ayahnya masih memaksakan seni ketika dunia sedang terbakar oleh perang. Pertemuan ayah-anak menjadi inti tema kedua film: generasi yang mencoba memahami generasi sebelumnya.
Secara naratif, Renoir (2025) memadukan proses kreatif dengan dinamika keluarga. Renoir melukis tubuh Andrée di taman, mengembalikan nuansa impresionisme berupa sapuan warna dan kilau matahari yang memantul di kulit. Sementara itu, Jean mulai tertarik pada Andrée — bukan sebagai model artistik, tetapi sebagai simbol masa depan dunia film. Andrée sendiri terjebak antara dua dunia: kanvas dan kamera.
Konflik emosional meningkat ketika sakit Renoir semakin parah. Film menunjukkan bahwa penderitaan tidak meruntuhkan seninya; justru memperhalus kepekaan warna dan tekstur. Dokternya mengatakan bahwa arthritis akan merusak sendi hingga ia tidak mungkin melukis lagi, tetapi Renoir hanya menjawab bahwa seni bukan bagian dari tubuh: “Tubuh hanyalah kendaraan. Cahaya tinggal di tempat lain.”
Climax Renoir (2025) datang ketika Jean mengumumkan keinginannya membuat film. Renoir menolak melihat film sebagai seni murni, tetapi Andrée membela Jean dan mengatakan bahwa “gerak adalah kanvas baru.” Perdebatan antara seni tradisional dan media baru menjadi poros besar film. Jean akhirnya membuat film pendek pertamanya dengan Andrée sebagai aktris, dan hasilnya mengejutkan Renoir — bukan karena ia menyukainya, tetapi karena ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia lukis: waktu yang mengalir.
Dalam adegan mendalam, Renoir meminta Jean menggambarkan adegan film secara verbal dan menyadari bahwa sinema adalah evolusi dari apa yang selama ini ia kejar: udara, cahaya, dan gerak manusia. Ia akhirnya meminta untuk melihat Andrée sekali lagi di studio, bukan untuk berpose, tetapi untuk merayakan momen terakhir karyanya. Adegan ini bukan melodramatis, tetapi elegan: Renoir melukis perlahan, Andrée duduk diam, dan Jean merekam diam-diam dengan kamera.
Ending Renoir (2025) tidak memperlihatkan kematian Renoir. Film memilih berhenti sebelum tragedi biologis, dan mengambil penutup ketika karya terakhirnya selesai. Dalam adegan penutup, Jean membawa Andrée ke studio film dan mengucapkan kalimat yang menjembatani dua era: “Ayah mengajariku cahaya. Sisanya biar kamera yang urus.” Latar berubah gelap pelan, dan film selesai tanpa sentimentalitas berlebihan.
Renoir (2025) berhasil menjadi cerita tentang seni sebagai keberlanjutan, bukan sebagai kejayaan personal. Bukan tentang mengabadikan diri, tetapi tentang mengajari generasi berikutnya bagaimana melihat dunia.












