Dalam People We Meet on Vacation (2026), perjalanan bukan hanya soal destinasi, tetapi tentang memutuskan siapa yang ingin kita ajak menyertai hidup setelah liburan berakhir.
Sinopsis Film :
Film People We Meet on Vacation (2026) mengangkat kisah tentang dua sahabat yang hidupnya saling terikat oleh satu tradisi sederhana: liburan tahunan. Poppy adalah penulis travel yang penuh energi, lincah, spontan, dan selalu mencari cerita. Sementara Alex adalah pustakawan yang tenang, terstruktur, dan lebih nyaman tinggal di kota kecil daripada menjelajah dunia. Keduanya bersahabat sejak kuliah, dan selama satu dekade mereka mempertahankan kebiasaan liburan bersama di musim panas — meski hidup, pekerjaan, bahkan hubungan mereka berubah-ubah.
Mereka bukan pasangan, setidaknya bukan menurut apa yang dikatakan mulut mereka. Namun selama sepuluh tahun, dunia luar tidak pernah berhenti menebak bahwa persahabatan itu memiliki fondasi emosi yang jauh lebih dalam dari sekadar kebersamaan. Tradisi liburan tersebut selalu menjadi ruang aman bagi keduanya: ruang tanpa ekspektasi, tanpa label, tanpa kewajiban selain saling hadir.
Namun dua tahun sebelum cerita dimulai, sesuatu terjadi dalam salah satu liburan mereka di Palm Springs. Kamera film tidak langsung memperlihatkan apa yang terjadi; yang diperlihatkan hanya hasilnya: Poppy dan Alex berhenti berlibur bersama, berhenti berbicara, dan perlahan-lahan hidup tanpa kehadiran satu sama lain. Poppy tampak sukses secara profesional tetapi kehilangan inspirasi; artikelnya kering, dan ia tidak lagi merasa terhubung dengan cerita yang ia tulis. Alex, yang kembali ke rutinitas kota kecil, berada di ambang lamaran dengan kekasihnya, tetapi tampak ragu apakah hidup yang ia jalani benar-benar hidup yang ia pilih atau hidup yang sekadar paling mudah dijalani.
Pertengahan People We Meet on Vacation (2026) memperlihatkan dorongan baru ketika Poppy mendadak menyadari bahwa saat-saat hidup terbaiknya justru bukan ketika ia bepergian ke tempat-tempat eksotis, tetapi ketika ia bepergian bersama Alex. Tanpa ragu panjang namun penuh kecemasan, ia menghubunginya dan mengajak untuk satu liburan terakhir. Alex menerima — bukan karena ia tidak terluka, tetapi karena sebagian dirinya masih percaya bahwa beberapa perjalanan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Liburan terakhir itu berlangsung di sebuah kota pantai kecil yang tidak terlalu turis, jauh dari glamor dan jauh dari kamera. Di sana, film membangun ritme emosionalnya melalui adegan-adegan sederhana: makan siang di teras, berjalan di pasar malam, mengomentari hotel yang terlalu mahal, dan tertawa pada hal-hal bodoh yang hanya mereka berdua yang mengerti. Justru dari rutinitas inilah film menunjukkan bahwa hubungan yang paling kuat tidak selalu dibangun oleh momen spektakuler, melainkan oleh kenyamanan yang penuh kejujuran.
Namun konflik utama People We Meet on Vacation (2026) muncul bukan dari kejadian dramatis, tetapi dari kenyataan bahwa keduanya menjalani hidup yang berjalan ke arah berbeda. Poppy hidup untuk bergerak dan berubah, sementara Alex hidup untuk menemukan kenyamanan dan stabilitas. Masing-masing takut menjadi alasan bagi yang lain untuk meninggalkan bagian penting dari hidupnya. Ketakutan ini membuat keduanya menahan kata yang sebenarnya ingin mereka ucapkan: bahwa mereka saling mencintai, bahkan ketika mereka tidak seharusnya.
Climax terjadi saat rahasia Palm Springs akhirnya terungkap melalui flashback yang dipadukan dengan adegan masa kini. Yang terjadi dua tahun lalu bukanlah pengkhianatan atau pertengkaran, tetapi sebuah ciuman yang membuat keduanya panik. Bagi Poppy, itu adalah jawaban. Bagi Alex, itu adalah kegagalan, karena hari berikutnya ia menerima tawaran pekerjaan yang membuatnya jauh dari Poppy. Mereka memilih menjauh bukan karena tidak cinta, tetapi karena takut cinta itu akan merusak persahabatan yang sudah mereka jaga selama bertahun-tahun.
Pada bagian akhir People We Meet on Vacation (2026), Poppy mengakui bahwa seluruh perjalanan, artikel, dan tempat-tempat indah yang ia kunjungi tidak pernah mengisi rasa kosong yang ia kira hanya bisa diisi oleh dunia. Kosong itu hanya berhenti ketika ia bersama Alex. Alex mengakui bahwa stabilitas yang ia cari bukan berarti tinggal di satu kota atau pekerjaan yang aman, tetapi seseorang yang membuat hidupnya terasa lebih besar daripada hal-hal yang ia takuti.
Ending tidak dibuat murahan dengan adegan pelukan bandara atau lamaran dadakan. Film memilih penyelesaian yang matang: Poppy dan Alex memutuskan untuk mencoba hubungan romantis dengan fondasi yang sudah terbangun selama satu dekade, sambil menegosiasikan hidup yang tidak menghapus bagian penting dari diri masing-masing. Poppy tetap bepergian, Alex tetap mencintai kota kecil, dan keduanya mencoba mendefinisikan ruang yang bisa menampung keduanya.
Film berakhir dengan satu kalimat yang disampaikan Alex: “Liburan selalu berakhir, tapi orang yang pulang bersamamu itu pilihan.” Layar memudar, dan penonton dibiarkan merasakan bahwa cinta yang realistis masih bisa menjadi bentuk keajaiban yang paling besar.












