“Ekis (2025) adalah drama-psikologis Filipina tentang hubungan yang retak, trauma tersembunyi, dan keputusan ekstrem ketika cinta berubah menjadi tekanan.”
Sinopsis Film :
Ekis (2025) berfokus pada Dante, pria dewasa yang tampak mapan namun menyimpan kelelahan batin akibat hubungan yang stagnan. Ia hidup bersama pasangannya, Mara, dalam rutinitas yang rapi di permukaan, tetapi penuh ketegangan emosional di baliknya. Percakapan mereka sering berakhir buntu, keintiman terasa mekanis, dan masa depan menjadi topik yang selalu dihindari.
Film ini menelusuri bagaimana cinta yang tidak dirawat berubah menjadi beban. Mara mendambakan kepastian—komitmen yang jelas, arah hidup yang pasti—sementara Dante terjebak dalam ketakutan akan kehilangan kebebasan. Ketidakseimbangan ini menciptakan jarak yang kian melebar, ditandai oleh kebiasaan saling menyalahkan dan diam berkepanjangan.
Konflik meningkat ketika masa lalu Dante kembali menghantui. Sebuah pertemuan tak terduga membuka luka lama yang belum sembuh, memicu kecemasan dan respons defensif. Dante mulai menarik diri, menghindari konfrontasi dengan cara yang justru memperburuk keadaan. Mara, merasa diabaikan, mencari jawaban dengan caranya sendiri—menuntut kejujuran yang tak siap Dante berikan.
Ekis (2025) menggambarkan dinamika psikologis hubungan dewasa dengan jujur dan tanpa romantisasi. Kamera linger pada momen-momen kecil: tatapan yang terlewat, sentuhan yang tertahan, dan kalimat setengah jadi. Ketegangan bukan berasal dari peristiwa besar, melainkan akumulasi keputusan kecil yang diambil—atau dihindari—setiap hari.
Ketika konflik mencapai puncaknya, sebuah kejadian memaksa Dante dan Mara menghentikan siklus tersebut. Mereka dihadapkan pada pilihan sederhana namun menyakitkan: memperbaiki dengan keberanian, atau mengakhiri demi kesehatan mental masing-masing. Percakapan panjang yang akhirnya terjadi menjadi inti emosional film—jujur, mentah, dan melelahkan.
Climax film tidak menawarkan jawaban hitam-putih. Dante menyadari bahwa mencintai berarti bertanggung jawab pada dampak emosional yang ia timbulkan. Mara memahami bahwa menuntut tanpa mendengar juga melukai. Keputusan yang diambil bukan kemenangan salah satu pihak, melainkan upaya memulihkan martabat diri.
Akhir Ekis (2025) terasa sunyi namun membebaskan. Pilihan akhir—apakah bersama atau berpisah—ditampilkan sebagai konsekuensi alami dari proses refleksi, bukan hukuman. Film menutup kisahnya dengan pesan dewasa: terkadang tanda “X” bukan kegagalan, melainkan penanda batas yang perlu dihormati agar seseorang bisa tumbuh.
Tonton Ekis (2025) hanya di Filmkita21, situs streaming lengkap dan update setiap hari.












