Terkadang perjalanan terbesar tidak dimulai dari laut, tetapi dari taman kecil yang menyimpan mimpi yang belum selesai.
sinopsis
A Boat in the Garden (2025) adalah film animasi drama-puitis yang disutradarai oleh Jean-François Laguionie, menampilkan kisah lembut tentang ingatan, penyesalan, dan keinginan untuk melanjutkan mimpi yang tertunda. Film ini mengeksplorasi relasi emosional antara manusia dan hal-hal kecil yang mereka simpan sepanjang hidup — baik yang dapat disentuh maupun hanya dikenang.
Kisahnya berpusat pada seorang pria tua yang hidup tenang di rumah pedesaan. Di belakang rumahnya terdapat taman luas dengan sebuah perahu yang sudah lama tidak tersentuh. Perahu tersebut tidak pernah berlayar di laut, tidak pernah turun ke sungai, dan tidak pernah mengarungi apa pun selain imajinasi. Namun dalam A Boat in the Garden (2025), perahu itu memiliki bobot historis dan emosional yang besar bagi sang tokoh utama.
Melalui kilasan masa lalu, penonton diperlihatkan bahwa perahu itu dulunya simbol mimpi muda: rasa ingin tahu, keberanian, dan keinginan untuk melihat dunia. Namun kehidupan, tanggung jawab, dan keadaan memaksa sang tokoh menunda, lalu perlahan melupakan mimpi tersebut. Kini, bertahun-tahun kemudian, ia berdiri di hadapan perahu yang menjadi monumen bisu atas segala hal yang tidak ia lakukan.
Dalam A Boat in the Garden (2025), Laguionie menekankan pentingnya “ruang sunyi”. Tidak banyak dialog panjang atau eksposisi verbal. Sebaliknya, film membiarkan visual yang berbicara: daun yang jatuh, kayu yang lapuk, angin yang menggeser pintu gudang, dan tatapan kosong sang tokoh menuju langit. Semuanya membentuk bahasa yang intim antara penonton dan karakter.
Konflik emosional muncul ketika cucu sang tokoh berkunjung untuk liburan. Anak kecil tersebut melihat perahu bukan sebagai penanda kegagalan, tetapi sebagai peluang — sebuah objek misterius yang menunggu untuk kembali digunakan. Dalam A Boat in the Garden (2025), tokoh tua dan anak kecil tersebut membangun hubungan antargenerasi melalui rasa ingin tahu, pertanyaan polos, dan permainan kecil yang memulihkan sesuatu yang lama hilang dari diri sang kakek: harapan.
Dengan pelan, film ini bergerak menuju pertanyaan penting: apakah sudah terlambat bagi seseorang untuk memulai perjalanan yang dulu ia tinggalkan? Laguionie tidak memaksakan jawaban moral atau sentimental. Sebaliknya, ia memberikan ruang untuk kontemplasi, mempertemukan rasa sesal dengan rasa penasaran, serta waktu yang tersisa dengan impian yang pernah ada.
Secara visual, A Boat in the Garden (2025) memanfaatkan warna-warna lembut dengan tekstur seperti lukisan hidup. Cahaya pagi, embun, dan gerak daun memainkan peran penting dalam membangun suasana puitis. Animasi cenderung lambat dan naturalistik, selaras dengan ritme kehidupan di usia senja dan kebutuhan untuk menikmati detail kecil dalam keseharian.
Musik dan desain suara juga berfungsi bukan sebagai dekorasi, tetapi sebagai penguat atmosfer. Beberapa momen bahkan berlangsung hampir tanpa suara, membiarkan keheningan menjadi medium emosional yang kuat — sesuatu yang khas dari karya-karya Laguionie.
Menjelang akhir, film ini tidak menawarkan klimaks besar atau akhir bombastis. Tidak ada pelayaran epik, tidak ada tabrakan dramatis. Sebaliknya, A Boat in the Garden (2025) menutup ceritanya dengan sebuah keputusan sederhana namun penuh makna: apa yang dilakukan sang tokoh terhadap perahu tersebut, dan bagaimana ia memandang sisa hidupnya setelahnya. Keputusan ini bukan tentang kapal itu sendiri, tetapi tentang rekonsiliasi antara diri muda dan diri tua.
Sebagai film animasi drama dewasa, A Boat in the Garden (2025) menawarkan pengalaman yang halus, kontemplatif, dan emosional. Cocok bagi penonton yang menyukai animasi berbasis estetika seni, cerita tentang ingatan, serta kisah yang lebih banyak mengajak merenung daripada menghibur secara konvensional.












